Vocational International Program (VIP) Summer Course 2026
“Digital Brandscapes: The Strategic Impact of Communication on Global Tourism”
Semarang, 19–20 Agustus 2026 — Kemajuan teknologi digital, pergeseran pola perilaku wisatawan, serta desakan akan prinsip keberlanjutan turut mengubah wajah sektor pariwisata di berbagai belahan dunia. Setiap destinasi kini dituntut untuk mampu menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung, menjalin komunikasi yang relevan dengan berbagai pihak, sekaligus memastikan bahwa manfaat dari kegiatan pariwisata benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat maupun lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam kegiatan Vocational International Program (VIP) Summer Course 2026 yang mengangkat tema “Digital Brandscapes: The Strategic Impact of Communication on Global Tourism”. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Informasi dan Budaya, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro (UNDIP), dengan menghadirkan empat akademisi yang membawakan sudut pandang saling melengkapi, mencakup strategi digital, komersialisasi narasi keberlanjutan, perkembangan riset pemasaran destinasi, hingga dinamika komunikasi pariwisata di media sosial.
Keempat narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. Mohd Hafiz Hanafiah, CHIA, dari Universiti Teknologi MARA (UiTM); Assoc. Prof. Dr. Zuraidah Sulaiman dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM); Prof. Usep Suhud, M.Si., Ph.D., dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ); serta Girindra Putri Ardana R., M.Sc., Ph.D., dari Universitas Diponegoro.
Dalam paparannya bertajuk “Digital Strategy on Social Media for Tourism Branding”, Prof. Hafiz menyampaikan bahwa kehadiran teknologi digital dan media sosial telah mengubah secara signifikan cara wisatawan mencari informasi hingga menjatuhkan pilihan atas suatu destinasi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses transformasi digital tidak sepatutnya menggeser sentuhan manusiawi dalam layanan pariwisata. Efisiensi yang dihadirkan oleh teknologi digital, menurutnya, perlu tetap berjalan beriringan dengan unsur keramahtamahan, kehangatan, dan rasa aman bagi wisatawan. Ia turut mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti ketergantungan berlebihan terhadap sistem digital, kesenjangan akses teknologi, serta perlindungan data pribadi, yang semuanya harus dikelola secara seimbang dengan semangat inovasi.
Sementara itu, melalui materi bertema “Commercializing Sustainable Tourism Narratives”, Assoc. Prof. Zuraidah memaparkan bahwa pada dasarnya wisatawan tidak sekadar mencari fasilitas, melainkan membeli makna, identitas, emosi, dan kenangan. Ia memperkenalkan sebuah kerangka kerja bernama PLACE Framework, yang terdiri atas unsur Promise, Local Voice, Authentic Evidence, Change, dan Easy Action, sebagai pendekatan untuk mengubah narasi keberlanjutan menjadi pengalaman yang konkret dan dapat dirasakan langsung oleh wisatawan. Contoh penerapannya antara lain berupa lokakarya tenun tradisional maupun wisata edukatif seputar ekosistem mangrove, yang sekaligus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan.
Prof. Usep Suhud dalam kesempatan tersebut memaparkan perkembangan arah riset pemasaran destinasi, yang pada mulanya berfokus pada motivasi wisatawan, namun kini telah meluas mencakup isu identitas kewilayahan, tata kelola, aspek budaya, hingga keberlanjutan. Ia mencontohkan kajian mengenai geothermal dan geopark tourism yang menempatkan daya tarik vulkanik bukan sekadar sebagai objek wisata yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sebuah sistem destinasi yang terintegrasi dengan aspek tata kelola dan pembangunan berkelanjutan.
Adapun Girindra Putri Ardana R., melalui paparan bertajuk “Selling Places, Creating Experiences: Language and Discourse in Tourism Social Media”, menyoroti pergeseran pola komunikasi pariwisata dari yang semula bersifat promosi satu arah menjadi ruang dialog yang melibatkan wisatawan, masyarakat lokal, hingga para influencer. Ia menjelaskan bahwa konten yang dihasilkan oleh pengguna (user-generated content) serta komunikasi dari mulut ke mulut secara elektronik (electronic word-of-mouth) kini kerap dinilai lebih dipercaya dibandingkan promosi resmi. Kondisi ini, menurutnya, turut memunculkan ketegangan antara “staged authenticity” atau keautentikan yang dikonstruksi, dengan pengalaman wisata yang benar-benar autentik.
Tidak hanya berlangsung dalam bentuk pembelajaran dan diskusi akademik, rangkaian VIP Summer Course 2026 juga dilengkapi dengan kegiatan luring (offline) yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengenal secara langsung kekayaan budaya, sejarah, dan pariwisata Jawa Tengah. Melalui kegiatan kunjungan lapangan, peserta diajak mengeksplorasi sejumlah destinasi bersejarah dan budaya di Kabupaten Semarang dan wilayah sekitarnya, antara lain Candi Borobudur, Fort Willem I, Museum Kereta Api Ambarawa, serta kompleks Candi Gedong Songo.
Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang memungkinkan peserta tidak hanya memahami konsep pariwisata melalui materi di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana warisan sejarah, budaya lokal, arsitektur, lanskap, dan narasi sebuah destinasi dapat membentuk pengalaman wisata. Kunjungan ke berbagai destinasi tersebut sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk menghubungkan pembahasan mengenai destination branding, komunikasi pariwisata, autentisitas, dan keberlanjutan dengan praktik nyata di lapangan. Interaksi langsung dengan destinasi juga memperkaya pemahaman peserta mengenai pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus mengomunikasikannya secara kreatif dan bertanggung jawab kepada wisatawan.
Keempat pemaparan tersebut serta rangkaian kegiatan lapangan tersebut secara garis besar menegaskan bahwa masa depan pariwisata tidak semata-mata ditentukan oleh sejauh mana proses digitalisasi berlangsung, melainkan lebih pada bagaimana teknologi, narasi, dan komunikasi dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman yang manusiawi, autentik, inklusif, dan berkelanjutan, tanpa mengabaikan keterhubungan antara wisatawan, masyarakat, budaya, dan lingkungan.
Melalui penyelenggaraan VIP Summer Course ini, Sekolah Vokasi UNDIP turut memperkuat langkah internasionalisasi pendidikan vokasi, sekaligus mempersiapkan mahasiswa agar kelak menjadi profesional pariwisata masa depan yang mampu memadukan inovasi digital, pengalaman manusiawi, identitas lokal, dan prinsip-prinsip keberlanjutan.<>